Welcome

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Menara Air Tirtanadi, Ikon Kota Medan

Senin, 02 Mei 2011

Menara air yang bernama Tirtanadi ini pada jamannya menjadi bangunan penanda kota Medan. Inilah ikon kota Medan yang sebenarnya. Dia dulu memang tidak cuma sebagai landmark, tetapi juga sangat berguna untuk mengalirkan air bersih ke seluruh pelosok kota Medan. Pertumbuhan kota yang semakin membutuhkan pasokan air lebih banyak tentu tidak bisa lagi dilayani menara air yang masih berdiri megah di kota Medan ini. Sekarang menara air ini sudah bukan landmark kota lagi karena mulai terhimpit bangunan tanpa cita rasa dan tanpa tertata di sekelilingnya. Tak lupa kemacetan parah disekitarnya.:).....
.

Menara ini merupakan peninggalan sejarah pemerintahan kolonial Belanda dengan Nomor Bangunan No. 3D-036 dan tahun penyelesaian 1908. Klo gak salah dibangun mulai tahun 1896 mendahului perusahaan-nya yang dibentuk kemudian. Nama resminya adalah Menara Air di jalan Pandu, kalo dulu cukup dengan Menara Air saja. Namun lebih dikenal sebagai Menara Air Tirtanadi. Alamat resmi Menara Air ini di JL.Sisingamangaraja No.1. Lokasinya pas di persimpangan jalan Sisingamangaraja, Jl. Pandu, Jl. Cirebon, dan Jl. Hj. Ani Idrus.
.
.
Menara Air ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi yang didirikan pada tanggal 23 September 1905 dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berkantor pusat di Amsterdam negeri Belanda. Sepertinya akrab tuh dengan istilah 'Leiding', 'Ajer Beresih', hehehe. Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Sumatera Utara No.11 tahun 1979 perusahaan ini resmi menggunakan nama yang sekarang (Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi) disingkat PDAM Tirtanadi yang berlokasi di Jl.Sisingamangaraja No.1 Medan.
sumber : http://jalanjalandiindonesia.blogspot.com/2010/04/menara-air-tirtanadi-ikon-kota-medan.html#more

Serba Serbi Makassar

Kota Makassar yang pernah dikenal sebagai Ujungpandang atau Ujung Pandang (dari tahun 1971 s.d. 1999) adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kotamadya ini adalah kota terbesar di Indonesia Timur atau terbesar keempat di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, dan Medan. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Kota ini akan merayakan ulang tahunnya setiap tanggal 9 November dan ulang tahun yang ke-400 dirayakan pada 9 November 2007 yang lalu.....
.
Secara geografis, Makassar terletak di pesisir barat daya pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Jadi, posisi kota Makassar itu berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Kalo koordinat letaknya di globe sih pada 5°8′ LS 119°25′ BT. Sehingga kota Makasar termasuk zona Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA). Sedangkan kode telepon interlokal untuk kota ini adalah 0411
.
Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini. Di kota ini ada suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Di kota ini ada pula komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan penduduk sebesar kurang lebih 1,25 juta jiwa. Orang Makassar terkenal sebagai pelaut, maka tak heran kalo motto kota Makassar adalah 'Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut Ke Pantai'.


Kota Makassar dibagi kepada 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah: Biring Kanaya, Bontoala, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Panakkukang, Rappocini, Tallo, Tamalate, Tamalanrea, Ujung Pandang, Ujung Tanah, dan Wajo.
.
Kota Makassar mempunyai sebuah bandara internasional, Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, yang pada tanggal 4 Agustus 2008 resmi dioperasikan. Arsitektur bandara ini mengambil konsep kapal pinishi. Bandara Hasanuddin juga memiliki taksi khusus Bandara dengan harga yang bervariasi sesuai dengan region dari daerah yang di tuju serta Shuttle bus khusus yang melayani jalur dari dan ke bandara baru.
.
Di kota Makassar terdapat sekitar 6000 bus mini atau juga dikenal dengan sebutan pete-pete yang menjadi komuter utama di kota ini. Jumlah pete-pete di kota ini seringkali dianggap terlalu banyak mengingat kota ini hanya membutuhkan sekitar 3000 pete-pete. Sudah mirip Bogor, si Kota Seribu Angkot. Hal ini berarti terdapat 2 pete-pete untuk seorang komuter. Biaya Rp.1500,- untuk orang dewasa dan Rp.1100,- untuk pelajar.
.
Sedangkan bus pada umumnya hanya digunakan untuk transportasi dalam skala besar dan bus tidak bersifat publik di dalam kota. Pada umumnya untuk skala antar kota. Kini Angkutan tersebut dikonversi menjadi Bus Way. Pemerintah akan membangun infrastruktur tersebut mulai tahun 2008.
.
Taksi adalah komuter paling eksklusif di kota ini. Bagus-bagus. Saat ini Makassar sudah memiliki 7 perusahaan taksi baik yang dikelola oleh pmerintah setempat atau pun oleh swasta. Diantaranya ada Bosowa, Putra, dll.
.
Makassar juga terkenal dengan angkutan tradisional becak. Jumlahnya sendiri mencapai 1.500 unit. Ada becak motor juga lho, kayak di Sumatra Utara dan Gorontalo. Pemerintah setempat memberlakukan becak untuk pariwisata. Khusus beroperasi disekitar kawasan wisata saja. Tarifnya tergantung kesepakatan dengan penggayung. Oleh karena itu Makassar juga biasa disebut dengan kota 'DAENG' yang artinya panggilan terhadap orang yang lebih tua. Tapi bukan kota 'KRATINGDAENG'.:)
.
Untuk mengatasi lalu lintas yang makin padat di dalam kota Makassar, maka saat ini telah terbangun jalan tol yang diberi nama Jalan Tol Reformasi yang menghubungkan bagian timur kota Makassar dengan pelabuhan Makassar. Pada tahun 2007 telah mulai pula dibangun jalan tol yang menghubungkan Bandara International Hasanuddin dengan pusat kota Makassar dan juga sementara dilaksanakan pembangunan jalan lingkar yang selain menghubungkan Bandara Hasanuddin dengan kota Makassar juga menghubungkan kawasan-kawasan pergudangan dan pabrik. Selain itu Makassar juga sedang melakukan pelebaran jalan untuk mengatasi kemacetan terutama di kawasan pegudangan [KIMA].
.


Makanan khas Makassar adalah coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori', Palabutung, Pisang Ijo, Otak-otak, Sop Saudara (hmm, yummy) dan Sop Konro. Kalo minuman sih ada Markisa Makassar. Sedangkan obat kuat khas disini terkenal adalah Sanrego (labelnya ada gambar kuda berdiri sambil meringkik, hehehe).
.
Sedangkan tempat-tempat tujuan wisata di kota Makassar ini adalah: Pantai Losari, Fort Rotterdam, Pantai Akarena, Pulau Laelae, Pulau Khayangan, Pulau Samalona, Benteng Sombaopu, Pantai Barombong, Makam Raja-Raja Tallo, Makam Sjekh Jusuf (Gowa), Pelabuhan Rakyat Paotere, dan Taman Makam Pahlawan.
.
Selain tujuan wisata itu, terdapat juga beberapa bangunan penting fasilitas kota Makassar, yaitu : Celebes Convention Centre, Bandara Internasional Hasanuddin, Pelabuhan Soekarno-Hatta, Gereja Kathedral, Masjid Al-Markaz Al-Islami, Masjid Raya, dan Kelenteng Kwangkong.
.
Terakhir, kota satelit Makassar yang saat ini giat dikembangkan adalah Tanjung Bunga


sumber :http://jalanjalandiindonesia.blogspot.com/2010/04/serba-serbi-makassar.html#more.

istana Maimoon, Istana Kuning

Istana Maimoon atau disebut Istana Maimun memang didominasi warna kuning, warna khas Melayu. Klo menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon yang aku beli disitu seharga Rp 20.000,- sih istana ini didirikan dengan biaya Fl. 100.000 (atau setara 1 juta gulden Belanda) tahun 1888 dengan arsitek seorang tentara KNIL, Kapten Th. van Erp, dan dikerjakan oleh pemborong Italia. Bangunannya berdiri di atas tanah seluas 2.772 Meter persegi, menghadap Timur. Peletakan batu pertama tanggal 26 Agustus 1888 dilakukan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alam Shah. Mulai ditempati tanggal 18 Mei 1891. Ini dapat dibaca pada sekeping marmer di kedua tiang ujung tangga naik. Jadi, usia istana ini sekarang sudah lebih dari satu abad.....
.
Sementara Pak Fajar cari-cari parkir aku masuk ke Istana Maimoon. Oh ya, kita mesti melepas sepatu dan meninggalkannya di anak tangga teratas. Agak lama juga saya berada di dalam sambil potret sana potret sini.:) Untung Pak Fajar sabar menunggu di luar.
.
Kalo saya perhatikan, desain istana ini meniru berbagai gaya, yaitu gaya tradisional istana-istana Melayu yang memanjang ke depan dan bertingkat dua, juga pola India tepatnya India Moghul dan juga pola Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai yang terbagi dalam tiga bagian, yakni bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan.
.
Begitu juga di dalam ukiran-ukiran, terutama di ruang Balairung Sri bercampur baur. Ukiran-ukiran Melayu tradisional dapat terlihat pada 'Pagar Tringgalum'. Begitu juga terlihat pada pinggiran atas lespfank (bener gak sih nulisnya?) dengan bentuk "Pucuk Rebung" yang terkenal. Trus, terlihat pula di dinding sebelah atasnya dengan bentuk "Awan Boyan". Dan juga pada langit-langit dengan Kubisme gaya India Moghul.
.
Melalui sebuah gang beratap dengan lengkungan2 lunas perahu terbalik yang banyak hiasan floralistis dan geometris, kita sampai pada sebuah ruangan di bagian belakang yang dulu dipakai sebagai tempat acara pernikahan dan ruang makan keluarga sultan. Makan malam ini biasanya dipersiapkan dan dilayani oleh para dayang yang menempati 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan di antara balairuung dan ruang makan. Di dalam ruangan ini saya lihat ada dua kursi/tahta sultan dan dua meja yang katanya buatan Eropa.
.
Istana ini di bagian atasnya ada 12 ruangan, yang terdiri dari 2 ruangan besar untuk upacara kerajaan dan 10 ruangan kecil untuk kelelengkapannya. Sedangkan di sebelah bawah ada 10 ruangan termasuk kamar mandi, dapur, kantor Sultan, penjara sementara (wah!), dan tempat penyimpanan barang.
.
Di sisi kanan, di depan Istana berdiri sebuah bangunan atau rumah Batak Karo, dimana di dalamnya ditempatkan sebuah meriam yang sudah puntung (putus). Katanya sih benda ini dianggap suci dan selalu dihubungkan dengan legenda Putri Hijau dari Tanah Karo.
.
Kira-kira 10 meter di depan Istana ada semacam Altar atau panggung yang dahulunya adalah pondasi dari dua patung kuda yang berfungsi sebagai pancuran.
 
 
sumber :http://jalanjalandiindonesia.blogspot.com/2010/04/istana-maimoon-istana-kuning.html#more

Vihara Gunung Timur, The Biggest Temple in Sumatera

Minggu, 24 April 2011

Setelah tanya-tanya orang di Kampung Keling, akhirnya sampai juga saya ke Vihara Gunung Timur diantar Pak Fajar. Hehehe. Vihara Gunung Timur adalah kelenteng Tionghoa (Taoisme) yang terbesar di Kota Medan, Indonesia dan mungkin juga di pulau Sumatra. Kelenteng ini dibangun pada tahun 1930-an. Vihara Gunung Timur ini terletak di Jalan Hang Tuah, sekitar 500 meter dari Kuil Sri Mariamman dan berada persis di tepi Sungai Babura sehingga dianggap sebagian oleh orang, mempunyai fengshui yang baik lantaran dekat dengan air.....
.
Vihara Gunung Timur merupakan vihara milik semua orang, bahkan mungkin tidak hanya umat Buddha. Sebab, vihara yang dibangun tahun 1960-an didirikan dari banyak sekali penyumbang yang tidak bisa disebut satu per satu namanya. Tidak ada yang lebih menonjol dari penyumbang yang lain. Pada awalnya, vihara itu merupakan rumah petak dengan pelataran yang luasnya tidak lebih dari 50 meter persegi.
.
Sekarang tanah curam di tepi Sungai Babura sudah berubah menjadi area vihara dengan luas sekitar satu hektar. Suasananya langsung mengingatkan saya waktu kunjungan ke vihara-vihara di Hong Kong saat Mensa Annual Gathering di sela-sela Mensa IBD 2007 yang lalu.
.
Menarik juga klo kita perhatikan, dan ini salah satu yang membuatnya terkenal, bahwa Vihara ini didirikan secara bersama-sama. Seluruh orang yang berkomitmen membangun vihara memberikan sumbangan. Selama bertahun-tahun, akhirnya bisa terbangun. Jadi, benar-benar gotong-royong. Saya jadi ingat waktu kami dulu gotong-royong membangun gereja HKBP Palembang. Saya suka sekali semangat gotong-royong ini.
.
Bagi warga Medan, Vihara Gunung Timur disebut-sebut sebagai bangunan yang dilindungi dan selama ini kerap menjadi kunjungan para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu daya tarik vihara itu adalah ornamen Tionghoa yang kental. Mirip banget sama vihara-vihara yang saya lihat di Hong Kong.
.
Patung naga dan ikan berkepala naga dipadu dengan patung empat dewa menambah daya tarik bangunan. Warna dominan vihara sebagian besar berwarna merah menyala berpadu kuning emas. Tepat di pelataran vihara terdapat dua patung singa indah.
 
sumber :http://jalanjalandiindonesia.blogspot.com/2010/04/vihara-gunung-timur-biggest-temple-in.html#more

Menyelami Ketakjuban Sawit Di Kalimantan

KALIMANTAN TENGAH - "Hati-hati, Kalimantan itu masih hutan semua", pesan Ibu yang disampaikan dengan nada cemas sebelum keberangkatan saya itu kembali terngiang ditelinga saat melanjutkan petualangan di tanggal 18 Oktober 2010 untuk menelusuri Kalimantan. Tetapi pesan itu justru bertolak belakang ketika sopir yang membawa kami sehari sebelumnya menuju Sampit mengeluh kepada kami : "Hutan disini sudah gundul, sudah banyak yang jadi kebun sawit Mas..", sebuah ungkapan yang diiringi dengan senyum canda itu membuat saya penasaran akan faktanya.

Saya dan Berka sempat berkunjung ke perkebunan sawit di Sungai Rungau yang dimiliki PT. Smart Tbk, dan di benak saya terpikir keluhan terkait perkebunan sawit yang diucapkan oleh sopir tersebut, tapi ternyata hasilnya mengejutkan, saya takjub dengan apa yang saya temukan disana. Rupanya selalu ada dua sisi dari setiap cerita.

Ketika saya naik ke Fire Tower di dataran perkebunan yang tinggi, saya lihat dengan mata kepala sendiri bahwa perkebunan ini justru memanfaatkan lahan “gundul” atau istilah profesionalnya lahan yang sudah terdegradasi dulunya untuk menanam sawit. Dengan demikian lahan di daerah tersebut bisa lebih produktif, kebun sawit ini menjadi detak jantung pertumbuhan ekonomi di sekitar pedesaan. Selain kebun, sarana pendukung lainnya seperti jalan, sekolah, rumah ibadah, puskesmas yang bisa dinikmati gratis bagi penduduk.

Dari sini masihkah kita memandang negatif keberadaan perkebunan sawit yang ada di indonesia, yang kini justru mengangkat martabat bangsa sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia mengungguli Malaysia dan negara-negara lainnya? Mari sisihkan prasangka yang buruk atas realita sawit yang telah membantu pembangunan Kalimantan.


sumber: http://aci.detik.com/read/2010/10/29/070325/1478295/1001/menyelami-ketakjuban-sawit-di-kalimantan
 

Lorem

Ipsum

Dolor